Tuesday, 17 September 2013

BU KEK SIANSU Jilid 10

Uhhh... apa yang terjadi...?"

Soan Cu mengeluh dan siuman dari pingsannya. Melihat dara itu sudah siuman. Sin Liong agak lega.

"Bagaimana lukamu?"

"Nyeri sekali, panas...eh, siapa yang memimpin binatang-binatang berbisa itu?"

Soan Cu turun dari pondongan Sin Liong.

"Cepat pergunakan obat penolak ini..."

Dia mengeluarkan sebungkus obat penolak dari ikat pinggangnya. Setelah menaburkan obat bubuk di sekeliling mereka bertiga, yaitu Soan Cu, Sin Liong dan biruang betina, Soan Cu berkata lagi, "Sin Liong tolong... kau tangkap Si Mata Satu itu...aku membutuhkan obat penawar racun am-gi-nya (senjata gelapnya)...."

Melihat betapa wajah dara itu pucat sekali tanda menderita kenyerian hebat, Sin Liong maklum bahwa tentu dara itu terkena senjata rahasia yang mengandung racun luar biasa sekali. Maka tanpa menjawab tubuhnya mencelat kearah Koan Sek yang masih bengong memandang ke depan, matanya terbelalak ketika melihat betapa anak buahnya mulai menjadi korban pengeroyokan binatang-binatang berbisa. Maka ketika tubuh Sin Liong menyambar, dia terkejut sekali, mengira bahwa pemuda itu akan menyerangnya. Dia tadi sudah mengambil kembali senjatanya, maka tanpa banyak cakap lagi dia sudah mengayun senjatanya menghantam ke arah Sin Liong.

Pemuda ini tadi melepaskan pedangnya, melihat betapa dia disambut serangan dahsyat, cepat dia miringkan tubuhnya, membiarkan senjata berat itu lewat dan secepat kilat kedua tangannya menyambar dan sebelumnya Koan Sek tahu apa yang terjadi, senjatanya telah terampas dan dibuang oleh pemuda itu sedangkan tubuhnya sudah diangkat dan dipanggul seperti seorang anak kecil saja. Percuma dia meronta, karena pemuda itu sudah meloncat seperti terbang, kembali ke dalam lingkaran obat penolak yang ditaburkan Soan Cu. Koan Sek menggigil. Selain dia maklum betapa lihainya pemuda ini, juga dia merasa ngeri sekali menyaksikan apa yang terjadi di luar lingkaran obat bubuk itu. Terdengar jerit dan pekik mengerikan. Orang-orang Pulau Neraka telah mundur dan menonton sambil sambil tertawa-tawa.

Akan tetapi anak buah bajak laut itu menghadapi penyerangan binatang-binatang
berbisa dan sama sekali mereka tak berdaya. Apalagi penyerangan lebah-lebah putih membuat mereka panik. Mengerikan sekali melihat mereka berkelojotan merintih-rintih dan menangis mengerung-ngerung karena tidak tahan menderita rasa nyeri yang menyengati sekujur tubuh.

"Cepat bertindak, halau mereka, Soan Cu!" Sin Liong berkata dengan alis berkerut. Biarpun yang dikeroyok binatang-binatang itu adalah kaum bajak, namun dia tidak dapat menyaksikan peristiwa mengerikan itu. Soan Cu menggeleng kepala.

"Tak mungkin. Mereka digerakan oleh suara melengking itu..."

"Suara apa itu? Siapa yang membunyikan?"

Soan Cu tersenyum dan menggigit bibirnya menahan rasa nyeri. Pahanya seperti dibakar dan rasa nyeri menusuk-nusuk jantung.

"Siapa lagi? Satu-satunya orang yang dapat melakukannya hanyalah Kong-kong...augghh ..."

Dara itu roboh pingsan lagi dalam rangkulan Sin Liong.

"Aduh celaka..., binatang-binatang itu...."

Tok-gan-hai-liong Koan Sek menggigil dan dia hendak lari dari tempat itu ketika melihat bagaimana pembantunya, Coa Liok Gu, sudah sibuk memutar pedang untuk berusaha mengusir lebah-lebah putih yang mengeroyoknya.

"Kalau kau keluar dari sini, engkau pun akan mengalami nasib yang sama," Kata Sin Liong, menunjuk ke arah lingkaran putih dari obat penolak.

"Binatang-binatang itu tidak berani memasuki lingkaran ini."

Koan Sek memandang dan matanya terbelalak ngeri melihat betapa ular-ular beracun yang bermacam-macam warnanya itu benar saja membalik lagi ketika mendekati garis lingkaran. Bahkan lebah-lebah putih yang terbang dekat, agaknya mencium bau penolak itu dan mereka itu pun terbang membalik, mengamuk dan menyerang para bajak yang berada di luar lingkaran. Saking ngerinya melihat betapa Coa Liok Gu menjerit dan roboh karena kakinya tergigit seekor ular, kemudian betapa pembantunya yang juga merupakan sutenya melolong-lolong dan bergulingan, dikeroyok banyak sekali binatang yang mengerikan, kepala bajak ini tak dapat lagi menahan dirinya dan dia menjatuhkan diri berlutut!

Sin Liong sendiri merasa ngeri menyaksikan peristiwa yang terjadi disekelilingnya. Kalau saja dia dapat melihat Ouw Kong Ek, tentu dia akan meloncat dan memaksa kakek itu menghentikan pekerjaanya yang kejam, membunuh para bajak seperti itu. Akan tetapi celakanya, suara itu melengking tinggi dan sukar diketahui dari mana datangnya, bahkan kakek itu pun tidak tampak. pula, mana mungkin dia berani meninggalkan Soan Cu yang pingsan itu bersama kepala bajak?

Maka pemuda ini merasa seperti disayatsayat jantungnya menyaksikan pembunuhan yang amat kejam itu, melihat betapa dua puluh empat orang bajak menemui kematian secara mengerikan, berkelojotan dan melolong-lolong, akhirnya suara jeritan mereka makin lemah dan berubah seperti suara binatang disembelih, kemudian tubuhnya tidak berkelojotan lagi dan binatang-binatang kecil berbisa yang kelaparan itu masih menggerogoti kulit dan daging mereka!

Kemudian tampaklah Ouw Kong Ek, Tocu Pulau Neraka. Kakek ini datang ke tempat itu sambil merangkak dengan susah payah, tubuhnya kelihatan lemah dan kurus, mukanya pucat dan sambil merangkak itu dia meniup sebatang alat tiup terbuat daripada batang alang-alang, menyerupai suling kecil. Pantas saja suaranya melengking tinggi dan aneh. Beberapa orang anggauta Pulau Neraka segera maju dan mengangkat ketua mereka, memapahnya datang dan kini binatang-binatang itu berangsur-angsur merayap pergi setelah Ouw Kong Ek merobah merobah suara tiupan sulingnya. Akhirya yang tinggal hanya mayat-mayat dua puluh empat orang bajak dalam keadaan mengerikan, dan mayat tujuh orang penghuni Pulau Neraka yang tewas dalam pertempuran.

"Ahhh, engkau pula yang menolong cucuku, Taihiap?"

Ouw Kong Ek dituntun anak buahnya datang mendekat. Sin Liong mengerutkan alisnya.

"To-cu, engkau sungguh kejam, membunuh mereka seperti itu."

Kakek itu terbelalak.

"Aku? kejam? Dan mereka ini...?"

Dia menuding ke arah mayat-mayat para bajak laut.

"Dan...hei, siapa dia ini? Ah, bukankah dia ini pemimpin mereka?"

Ouw Kong Ek sudah melangkah maju menghampiri Koan Sek yang berdiri dengan muka pucat.

"Tahan dulu, Tocu! Memang dia pemimpin bajak, akan tetapi nyawa cucumu berada didalam tangannya!"

"Soan Cu...!"

Ouw Kong Ek memandang tubuh dara yang dipondong oleh Sin Liong dan berada dalam keadaan pingsan itu.

"Mengapa dia?"

"Terkena senjata beracun."

Kemudian dia memandang Koan Sek dan membentak, "hayo kauberikan obat
penawar senjata gelapmu!"

Tok-gan-hai-liong Koan Sek adalah seorang yang sudah berpengalaman, seorang yang menjelajah di dunia kang-ouw, maka dia tentu saja cerdik sekali. Tadi ketika menyaksikan betapa semua anak buahnya, juga sutenya, tewas secara mengerikan, dia ketakutan setengah mati dan kehilangan akalnya. Akan tetapi sekarang setelah dia melihat kesempatan untuk menolong diri, timbul kembali keberaniannya dan dia tersenyum.

"Agaknya kita telah salah masuk. Tidak tahu pulau apakah ini dan siapa kalian ini?" tanyanya kepada Sin Liong karena dia merasa jerih sekali menghadapi pemuda yang dia tahu amat lihai dan sama sekali bukan tandingannya itu.

"Kau belum tahu? Ini adalah Pulau Neraka dan dia itu adalah ketuanya." Dia menuding kepada Ouw Kong Ek.

"Sedangkan Nona ini adalah cucunya. Maka kau harus cepat memberikan obat penawarnya."

"Ha-ha, mudah saja! Mudah saja memberi obat penawarnya. Aihh, kiranya kami telah memasuki sebuah pulau iblis dengan penghuni-penghuninya seperti iblis pula! Benar-benar kami telah membuat kesalahan besar! Orang muda, mudah saja mengobati luka Nona ini, akan tetapi bagaimana dengan aku sendiri? Anak buahku telah tewas semua dan aku dalam cengkraman kalian!"

"Engkau... engkau akan kusiksa, kucincang sampai hancur!" Ouw Kong Ek membentak.

"Ha-ha-ha, boleh! Lakukan sekarang, karena aku tidak takut mati setelah aku melihat bahwa aku mempunyai banyak teman terutama sekali cucumu. Kalau orang tidak lagi menyayangkan kematian seorang dara jelita muda remaja seperti dia ini, apalagi kematian seorang tua bangka seperti aku. Ha-ha-ha! biarlah aku mati ditemani oleh dara remaja ini!"

Ouw Kong Ek sudah marah sekali, kedua tangannya dikepal sehingga suling batang alang-alang itu hancur di tangannya. Melihat kemarahan ketua Pulau Neraka itu, Sin Liong Berkata, "Ouw-tocu apa yang dikatakan benar. Sudah kuperiksa luka cucumu dan ternyata dia terkena racun yang aneh sekali yang belum pernah aku melihatnya. Maka, biarlah kita menukar keselamatannya dengan keselamatan Soan Cu. Betapapun juga , nyawa Soan Cu jauh lebih berharga dari pada kehidupan seorang sesat seperti dia."

"Ha-ha-ha , itu baru omongan yang tepat!"

Tok-gan-hai-liong Koan Sek yang merasa "mendapat angin" berkata dengan dada dibusungkan. Dia tidak takut lagi sekarang. Nyawa cucu ketua Pulau Es berada di tangannya. Apalagi yang ditakutinya?

"Iblis keparat! Hayo kauberikan obat untuk cucuku dan kau boleh minggat dari sini!"

Ouw Kong Ek membentak. "Ha-ha-ha, aku Tok-gan-hai-liong Koan Sek bukan seorang tolol." Dia lalu menoleh kepada Sin Liong. "Orang muda apakah kedudukanmu di Pulau Neraka ini?" Dia memang tidak dapat menduga karena tadi dia mendengar ketua Pulau Neraka menyebut taihiap (pendekar besar) kepada pemuda ini. Dan kalau ada yang dipercaya di situ. Maka satu-satunya orang adalah pemuda ini.

"Aku bukan penghuni Pulau Neraka aku adalah seorang dari Pulau Es...."

"heeeehhh...??"

Mata Tok-ganhai- liong yang tinggal satu itu terbelalak dan mukanya pucat. Dia merasa seolah-olah dalam mimpi. Setelah bertemu dengan Pulau Neraka yang aneh dan mengerikan di mana semua anak buahnya tewas, dia bertemu pula dengan seorang pemuda sakti yang mengaku datang dari Pulau Es, sebuah sebutan yang tadinya dikiranya hanya terdapat dalam dongeng tahyul belaka. Mimpikah dia? Ataukah dia sudah mati ditelan badai dan sekarang ini adalah pengalaman dari rohnya?

"Pulau...Pulau... Es...?"

Dia berkata lirih. Sin Liong mengangguk tak sabar. Dia tadi mengaku sebenarnya, siapa mengira malah membuat kepala bajak ini menjadi termangu-mangu seperti orang sinting.

"Kalau begitu, aku hanya mau memberikan obat penawar jika engkau yang mengantarku sampai ke sebuah perahu di pantai Pulau Neraka ini."

"Jahanam, kau tidak percaya kepadaku?" Ouw Kong Ek membentak dan para pembantunya sudah mengangkat senjata mengancam.

"Terserah, bunuhlah. Aku toh akan mati bersama dia ini."

Sin Liong menyerahkan tubuh Soan Cu yang masih pingsan kepada kakeknya, kemudian berkata, "ouw-tocu, biarlah kita memenuhi permintaannya. Harap sediakan perahu untuknya."

Terpaksa Ouw Kong Ek menggerakan kapalanya memberi isyarat kepada anak buahnya, kemudian memandang kepada kepala bajak itu dengan mata mendelik. Koan Sek lalu berjalan bersama Sin Liong dan dua anak buah Pulau Neraka menuju ke tepi laut. Setelah sebuah perahu dipersiapkan, kepala bajak itu mengeluarkan sebuah benda dari dalam sakunya. Benda itu ternyata adalah seekor kuda laut sebesar ibu jari tangan yang sudah kering.

"Nona itu terkena racun yang terkandung dalam duri ikan yang tidak dapat diobati kecuali dengan ini. Bubuklah dan masak, lalu minumkan airnya. Tentu dia akan sembuh." Sin Liong mengerutkan alisnya. Sudah banyak pengetahuannya tentang pengobatan akan tetapi tentu saja belum pernah dia mengenal rahasia racun yang keluar dari dalam lautan.

Dia menyerahkan bangkai kuda laut kering itu kepada dua orang penghuni Pulau Neraka sambil berkata, "Berikan ini kepada Ouw-tocu, suruh menumbuk halus dan masak dengan air, kemudian minumkan kepada Nona. Bagaimana hasilnya supaya cepat melapor ke sini. Aku menunggu di sini."

Dua orang itu menerima kuda laut mati dan berlari memasuki pulau, sedangkan Sin Liong lalu duduk di tepi pantai dengan sikap tenang. "Kau tidak mau membiarkan aku pergi?" Koan Sek bertanya penuh khawatir.

"Jangan tergesa-gesa," jawab Sin Liong. "Aku harus yakin dulu bahwa obatmu benar-benar manjur, baru aku akan membolehkan engkau pergi. Bukankah itu adil namanya?"

Koan Sek menghela napas dan menjatuhkan diri duduk di dalam perahu. Dia maklum bahwa kalau melawan, dia tidak akan menang. "Dia pasti akan sembuh. Dalam keadaan seperti ini, mana aku berani main-main?"

Sin Liong diam saja. Kepala bajak itu menggunakan mata tunggalnya untuk memandangi pemuda itu penuh selidik, kemudian bertanya, "Orang muda, benarkah engkau dari Pulau Es?"

Sin Liong mengangguk.

"Dan siapa namamu?"

"Kwa Sin Liong. Mengapa engkau bertanya-tanya?"

"Tadinya aku mengira bahwa Pulau Es hanyalah sebuah dongeng..."

"Hemm.., memang sekarang hanya tinggal dongeng..."

Sin Liong berkata sambil merenung jauh membayangkan keadaan Pualu Es yang telah terbasmi oleh badai dan kini tinggal menjadi sebuah pulau kosong yang menyedihkan.

"Nguuk... nguuukkk..."

Sin Liong menoleh dan tersenyum "Eh, Enci biruang. Kau menyusulku?"

Biruang itu menghampiri, dan memperlihatkan taringnya ketika dia melihat Koan Sek di atas perahu di depan pemuda itu.

"Binatang yang hebat!"

Koan Sek berkata dan bulu tengkuknya berdiri. Pemuda ini seperti bukan manusia biasa ! dan mempunyai binatang peliharaan seperti itu!

"Kau bilang tadi... tinggal dongeng apa maksudmu?"

"Tidak apa-apa, lupakanlah," kata Sin Liong sambil mengelus biruang yang sudah bertiarap di depannya.

"Orang muda she kwa... eh, Taihiap...kenapa kau mau membebaskan aku?"

Sin Liong mengangkat mukanya memandang dan kepala bajak itu menjadi lebih heran lagi melihat betapa pandang mata pemuda itu sama sekali tidak membayangkan kebencian atau permusuhan dengannya?

"Mengapa tidak? engkau pun membebaskan Soan Cu."

Sin Liong menengok dan tampaklah dua orang tadi datang berlari-lari.

"Kwa-taihiap, Nona sudah sembuh!"

Sin Liong mengangguk kepada Koan Sek. "Pergilah, cepat! Lebih cepat lebih baik dan harap kau jangan sekali-kali mendekati pulau ini."

Koan Sek menjawab, "Terima kasih. Satu kalipun sudah cukuplah!"

Dia mengkirik. "Pulau Iblis seperti ini siapa yang ingin melihatnya lagi?"

Dia lalu menggerakan dayungnya dan perahu meluncur cepat meninggalkan Pulau Neraka. Ketika Sin Liong bersama biruangnya tiba kembali ke tengah pulau benar saja bahwa Soan Cu telah sembuh sama sekali dari pengaruh racun. Hanya luka di pahanya yang tinggal dan luka itu sudah diobati oleh Kong-kongnya. Para penghuni Pulau Neraka sedang sibuk menyingkirkan mayat-mayat yang bergelimpangan mengerikan itu dan Sin Liong lalu diajak masuk ke pondoknya oleh Ouw Kong Ek dan Soan Cu.

"Taihiap, lagi-lagi engkau yang datang menolong kami, "kata Ouw Kong Ek. "Kalau engkau tidak segera datang entah bagaimana dengan aku. Mungkin sudah mati, Sin Liong," kata Soan Cu dengan mata bersinarsinar penuh kagum dan terima kasih.

"Ahh, mengapa Tocu dan kau masih bersikap sungkan terhadap aku? Bukankah kita ini sahabat? Kedatanganku bukan hanya kebetulan saja. Aku datang dengan maksud yang sama seperti setahun yang lalu, yaitu mencari Sumoi. Apakah dia tidak datang ke sini?"

Soan Cu dan kakeknya memandang kaget dan juga heran, dan di dalam pandang mata Ouw Kong Ek terkandung rasa hati tidak senang. Sin Liong maklum akan ketidaksenangan hati kakek itu, maka dia menarik napas panjang dan berkata, "Harap saja Tocu tidak menyangka yang bukan-bukan terhadap Sumoi. Apa yang dilakukan oleh Suhu di sini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Sumoi."

"Jadi Taihiap sudah tahu apa yang diperbuat oleh Han Ti Ong di sini?" Sin Liong mengangguk.

"Aku dapat menduganya. Tentu dia marah-marah karena puterinya pernah ditahan di sini."

"Bukan hanya marah-marah!" kata Soan Cu mengepal tinju. "Orang itu sombong sekali! Dia menghina kakek, biar pun tidak melakukan pembunuhan tapi dia memukul semua orang!"

"Kau juga dipukulnya?" Sin Liong bertanya.

"Tadinya, melihat aku seorang wanita dan masih muda, dia tidak mau memukulku, akan tetapi karena melihat kakek dipukul, aku menyerangnya dan aku roboh oleh tamparan. Dia memang sakti, akan tetapi ganas dan kejam, bahkan semua catatanmu dihancurkan! Sekali waktu kami akan menuntut balas, kami akan menyerang Pulau Es!" Sin Liong menarik napas panjang.

"Lupakan saja niat itu, selain tidak baik juga tidak ada gunanya. Kerajaan Pulau Es tidak ada lagi sekarang, telah musnah."

"Hei...? Apa maksudmu, Taihiap...?" kakek itu bertanya, terbelalak.

"Apa yang telah terjadi?" Soan Cu juga bertanya.

"Dilanda badai... habis seluruhnya, semua penghuninya termasuk suhu dan seluruh benda di sana habis terbasmi kecuali bangunan istana yang telah kosong sama sekali..."

Sin Liong lalu menuturkan dengan singkat malapetaka yang penimpa Pulau Es, dan betapa secara aneh dan kebetulan saja dia dan Sumoinya terluput dari bencana. Kakek dan cucu itu mendengarkan dengan melongo kemudian kakek itu bertepuk tangan dan tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha-ha! Ha-ha-ha-ha! Dendam ratusan tahun lenyap dalam sekejap mata! kami orang-orang buangan yang dianggap berdosa, dianggap dikutuk tuhan, malah masih dapat hidup melanjutkan riwayat, sedangkan penghuni Pulau Es yang suci dan agung, kaum bangsawan yang tinggi, sekali sapu saja musnah! Ha-ha-ha, siapa yang lebih dilindungi Tuhan? Han Ti Ong, tanpa kami bergerak, engkau dan kerajaanmu lenyap sudah!"

Kakek itu tertawa-tawa sampai air matanya keluar sehingga sukar dikatakan apakah dia itu tertawa, ataukah menangis. Mengapa Taihiap sekarang mencari Nona Swat Hong ke sini? Apa yang terjadi dengan dia?"

Sin Liong lalu menceritakan niat perjalanannya bersama Swat Hong, yaitu untuk mencari ibu Swat Hong yang sampai kini tidak diketahui berada di mana. Dan betapa di jalan mereka menjadi bungung dan tersesat karena badai telah menciptakan pemandangan yang berbeda di permukaan laut sehingga sehingga mereka mendarat di gunung es dan betapa dia menemukan biruang hitam.

"Sumoi berangkat melanjutkan perjalanan mencari Pulau Neraka karena disangkanya ibunya berada di sini, sedangkan aku mengobati biruang."

Sin Liong menutup ceritanya, tentu saja dia segera menceritakan kemarahan Swat Hong kepadanya.

"Apakah dalam beberapa hari ini dia tidak dantang ke sini?"

Soan Cu menjawab, "Untung saja dia tidak datang, Sin... eh, Taihiap."

"Soan Cu mengapa engkau meniru kakekmu, bersungkan kepadaku dan menyebut Taihiap segala?"

"Biarlah, Taihiap," Kata Ouw Kong Ek. "Tidak pantas kalau dia menyebut namamu begitu saja. Dan engkau memang menolong kami dan pantas disebut Taihiap karena kepandaianmu tinggi sekali."

"Kaukatakan tadi untung Sumoi tidak datang ke sini, mengapa?"

"Andaikata dia datang, tentu akan terjadi apa-apa yang tidak baik antara dia dan Kong-kong. Ketahuilah, semenjak Raja Pulau Es datang mengacau di sini, Kong-kong jatuh sakit, dan kebencian kami semua terhadap Pulau Es makin mendalam. Maka kalau Sumoimu, Swat Hong datang, tentu akan terjadi hal yang tidak baik."

Sin Liong mengangguk-angguk, merasa lega bahwa sumoinya tidak mendahului datang ke Pulau Neraka, akan tetapi juga menimbulkan kegelisahannya karena dia jadi tidak tahu ke mana sumoinya yang pemarah itu kini berada! Bajak-bajak laut itu, dari mana datangnya dan mengapa mengacau ke sini?" tanyanya.

"Entah. Tahu-tahu mereka muncul dan perahu besar mereka terdampar di tepi pulau."

"Agaknya mereka juga diamuk badai."

"Mungkin."

Soan Cu melanjutkan. "Kami diserang selagi kong-kong sakit. Kong-kong tidak dapat turun dari pembaringan, maka aku yang menggantikannya, aku keluar menyambut mereka, akan tetapi karena kurang hati-hati, karena memandang rendah am-gi mereka, aku hampir celaka kalau tidak ada engkau yang datang di waktu yang tepat, Taihiap."

"Akan tetapi akhirnya, biarpun sakit, Kong-kongmu dapat membunuh semua bajak laut itu."

Sin Liong bergidik ngeri mengenangkan kematian para bajak itu.

"Ugh-ugh....!"

Kakek itu terbatuk-batuk. "Bajak-bajak macam itu saja kalau aku tidak sakit, kalau Soan Cu tidak memandang rendah dan kalau para penghuni tidak baru saja diamuk badai, tidak ada artinya bagi kami. Kalau binatang-binatang Pulau Neraka bersembunyi ketakutan diamuk badai, mana mereka mampu masuk? Sudahlah, sekarang saya hendak menyampaikan permohonan yang amat penting bagi Taihiap."

"Ah, Tocu, Di antara kita yang sudah menjadi sahabat, perlu apa banyak sungkan lagi? Kalau ada sesuatu, katakanlah saja, mana perlu menggunakan permohonan lagi?" jawab Sin Liong.

Akan tetapi, tiba-tiba kakek itu turun dari bangkunya dan menjatuhkan diri berlutut di depan Sin Liong! Tentu saja pemuda ini menjadi sibuk sekali, cepat membangunkan kakek itu dan berkata, "Tocu, harap jangan begini. Aku yang muda mana berani menerimanya? Ada keperluan apakah? katakan saja, aku tentu akan membantumu sedapat mungkin."

Sin Liong berkata dengan hati tidak enak, mengira akan menghadapi hal yang sulit. Setelah duduk kembali dan mengatur napasnya yang terengah-engah karena kesehatannya belum pulih kembali dan tubuhnya terasa amat lelah, kakek itu berkata, "Kwa-taihiap, aku sudah tua dan tidak mempunyai keturunan lain kecuali Soan Cu. Taihiap sudah melihat sendiri keadaan di Pulau Neraka yang merupakan tempat tidak baik untuk seorang dara seperti Soan Cu. Oleh karena itu, setelah kini kerajaan Pulau Es tidak ada, berarti bahwa Pulau Neraka telah bebas dan kami bukanlah orang-orang buangan lagi. Soan Cu juga bukan keturunan orang buangan lagi dan sewaktu-waktu kami boleh meninggalkan pulau ini. Karena itu, aku mohon dengan sepenuh hatiku, sudilah Taihiap membawa Soan Cu bersama Taihiap untuk mengenal dunia ramai, dan syukur kalau Taihiap dapat mengatur agar cucuku ini tidak usah lagi kembali dan tinggal di Pulau Neraka ini. Kuharap permohonan ini tidak akan ditolak oleh Taihiap."

Sin Liong mengerutkan alisnya. Permintaan yang sama sekali tidak pernah disangkanya!

"Akan tetapi, Ouw-tocu, hendaknya diingat bahwa aku sendiri adalah seorang sebatangkara yang tidak mempunyai apa-apa, tidak mempunyai tempat tinggal dan masih belum kuketahui apa akan jadinya dengan diriku ini."

"Kalau Taihiap merantau, bawalah dia merantau, ke mana saja aku sudah pasrah sepenuhnya. Baik dia akan Taihiap anggap sebagai sahabat, sebagai saudara, atau kalau mungkin.... dari lubuk hatiku kuharap sebagai calon jodoh, aku sudah merasa lega dan senang, asal dia tidak tersiksa tinggal di neraka ini."

Sin Liong merasa sukar untuk menolak, akan tetapi juga berat untuk menerima, maka dia menoleh kepada Soan Cu dan berkata, "Soal ini sebaiknya kita serahkan kepada Soan Cu sendiri. Kalau memang dia suka merantau meninggalkan pulau ini, tentu saja aku tidak keberatan mengadakan perjalanan bersama. Akan tetapi hal ini bukan berarti bahwa aku menerima usul perjodohan Tocu, dan sewaktu-waktu dia boleh pergi ke mana saja, jadi aku tidak terikat oleh perjanjian apapun juga." [bersambung]


Tulisan ini ditulis oleh Asmaraman S / Kho Ping Hood

Sunday, 18 August 2013

BU KEK SIANSU Jilid 9



Beberapa hari kemudian, setelah yakin benar bahwa tidak ada seorang pun di antara penghuni Pulau Es yang selamat dan kembali ke pulau itu, Sin Liong dan Swat Hong berangkat meninggalkan Pulau Es. Ketika perahu kecil yang mereka dayung itu meluncur meninggalkan pulau, Swat Hong memandang kearah pulau dengan air mata bercucuran. Juga Sin Liong merasa terharu dan berduka mengingat akan nasib para penghuni Pulau Es yang mengerikan itu. Mereka berdua mendayung perahu menuju ke selatan dan di sepanjang perjalanan ini mereka menemukan bukti-bukti kedahsyatan badai dan keanehan alam yang diakibatkan oleh letusan gunung berapi di bawah laut itu. Ada pulau yang lenyap sama sekali , dan ada pula pulau yang baru muncul begitu saja, pulau yang amat aneh, pulau batu karang yang masih jelas kelihatan bahwa pulau ini tadinya merupakan dasar laut dengan segala keindahannya, dengan mahluk hidup dan tetumbuhannya yang kini semua mengeras menjadi batu karang dengan bermacam bentuk.

Banyak pulau yang mengalami nasib serupa dengan pulau Es, yaitu menjadi gundul, habis sama sekali tetumbuhan atasnya. Diam-diam terbayang dalam pikiran Sin Liong betapa dahsyat kekuasan alam. Andaikata semua lautan yang mengamuk seperti beberapa hari yang lalu itu, agaknya dunia akan menjadi kiamat! Melihat keadaan pulau-pulau itu, timbul rasa khawatir dalam hati Sin Liong tentang keadaan Pulau Neraka. Tentu pulau itu pun tidak terluput dari amukan badai, pikirnya. Padahal baru saja pulau itu mengalami penyerbuan Han Ti Ong dan pasukannya! Sin Liong merasa kasihan sekali terhadap nasib para penghuni Pulau Neraka. Apakah pulau itu seperti juga Pulau Es, disapu bersih dan seluruh
penghuninya terbasmi habis?

"Agaknya ibumu tidak berada diantara pulau-pulau ini," Beberapa hari kemudian setelah merasa mencari dengan sia-sia, Sin Liong mengemukakan pendapat.

"Bagaimana kalau kita mencari ke utara lagi. Siapa tahu kali ini kita berhasil, dan kita dapat juga bertanya ke Pulau Neraka kalau-kalau ibumu ke sana." "Hemm, agaknya engkau sudah rindu kepada Soan Cu, suheng." Sian Liong mengerutkan alisnya.

"Sumoi, kau...cemburu lagi?" Wajah dara itu menjadi merah.

"Aku hanya berkata sewajarnya."

"Sudahlah. Kalau kau cemburu, kita tidak usah singgah di Pulau Neraka," kata Sin Liong menarik napas panjang. Hening sejenak dan mereka telah menghentikan gerakan dayung karena mereka masih belum mendapat keputusan akan mencari ke mana.

"Kita ke Pulau Neraka!" tiba-tiba Swat Hong berkata.

"Ehhh...??"

"Aku harus ke sana. Aku akan menegur kakek berkepala besar itu! Pulau Neraka yang menjadi biangkeladi sehingga Ayah marah-marah kepada kita, hampir saja kita dibunuhnya. Karena Pulau Neraka telah berani menawanku."

"Hemm, Sumoi. Mengapa kejadian yang telah lewat dipersoalkan lagi? Bukankah Ayamu telah menyerbu ke sana kurasa Ayahmu telah menghukum mereka menurut cerita anak buah pasukan? Kalau begitu, kita tidak perlu pergi ke sana, sumoi."

"Aku harus pergi ke sana!" dara itu berkeras. Sin Liong menggeleng-geleng kepala. Sukar benar melayani sumoinya ini yang memiliki watak aneh dan hati yang keras sepeti baja.

"Aku hanya mau pergi ke Pulau Neraka kalau untuk mencari ibu, akan tetapi kalau kita pergi ke sana hanya untuk mencari perkara, aku tidak mau. Kau harus berjanji tidak akan membuat kekacauan di sana, sumoi."

"Hemmm, agaknya kau berkeinginan keras untuk menjadi sahabat baik Pulau Neraka, ya? Karena ada...."

"Sumoi, harap jangan bicara yang tidak-tidak. Memang kita sahabat baik mereka! Lupakah kau ketika mereka mengantar kita ketika meninggalkan pulau itu? Karena itu, aku hanya mau pergi ke sana kalau untuk mencari ibumu dan menjenguk mereka sebagai sahabat, melihat keadaan mereka setelah ada badai mengamuk."

Swat Hong cemberut, akan tetapi menjawab juga. "Baiklah, kita lihat saja nanti."

Dan mereka lalu mendayung perahu dengan cepat menuju ke Pulau Neraka. Akan tetapi, setelah mereka tiba di daerah Pulau Neraka, mereka menjadi bingung dan pangling karena didaerah itu telah terjadi perubahan hebat sekali. Mungkin karena akibat badai yang mengamuk, yang ternyata mengambil daerah yang amat luas itu, di sekitar situ telah muncul gunung-gunung es yang anat besar sehingga Pulau Neraka yang biasanya tampak dari jauh sebagai raksasa yang tidur itu kini tidak kelihatan lagi karena semua jurusan terhalang pandangannya oleh gunung-gunung es. Mereka mendayung perahu berputar namun tidak dapat keluar dari kurungan gunung-gunung es itu.

"Ahhh, dahulu tidak ada gunung-gunung es besar seperti ini," kata Swat Hong.

"Ini tentu diakibatkan oleh badai itu, Sumoi. Biarlah kita mengaso dulu dan aku akan mencoba melihat keadaan dari puncak sebuah gunung. Kau tunggu saja di sini."

Perahu itu menempel pada sebuah bukit es yang tinggi dan Sin Liong meloncat ke daratan es. Kemudian dia menggunakan ilmunya berlari cepat, mendaki gunung es itu untuk melihat dan mengenali daerah itu dari atas puncaknya yang tinggi. Tiba-tiba terdengar suara gerengan keras sekali yang mengguncangkan seluruh gunung es itu. Sin Liong terkejut dan dengan cepat dia menoleh untuk melihat apa yang mengeluarkan suara seperti itu. Dari jauh tampak olehnya seekor beruang besar sedang menggerakkan kedua kaki depanya ke arah burung-burung yang menyambar-nyambar di atasnya. Burung-burung nazar (burung botak pemakan bangkai) yang besarbesar beterbangan di atas biruang itu dan menyerangnya dari atas sambil mengeluarkan suara pekik mengerikan.

Melihat ini, Sin Liong cepat berlari mendekati. Ternyata beruang itu terluka parah juga di beberapa bagian anggauta badannya, sedangkan di bawah kakinya tampak bangkai seekor ular laut yang besar. Jelaslah bahwa biruang itu tadi berkelahi dengan ular laut itu dan dia menang, akan tetapi dia menderita luka-luka dan burung-burung nazar yang kelaparan itu kini hedak mengeroyoknya dan tentu saja ingin makan bangkai ular besar. Sin Liong segera menggunakan salju yang digenggam untuk menyambiti burung-burung itu. Terdengar suara plak-plok-plak-plok disusul suara burung-burung nazar berkaok-kaok kesakitan dan mereka terbang ketakutan menjauhi tempat itu karena setiap kali terkena sambitan salju, terasa nyeri sekali.

Dengan beberapa loncatan saja Sin Liong sudah tiba di depan biruang itu. Beruang yang berkulit hitam dan amat besar itu menyeringai dan mengerang, memperlihatkan gigi bertaring yang amat runcing kuat dan lidah yang merah. Matanya terbelalak penuh kecurigaan dan kemarahan kepada Sin Liong.

"Tenanglah, aku datang untuk menolongmu," kata Sin Liong sambil maju lebih dekat.

"Auuughh..!"

Beruang itu menggerang dan kaki depan yang kiri menyambar kearah dada Sin Liong. Melihat betapa telapak kaki itu berdarah, Sin Liong mengelak dan cepat menangkap pergelangan kaki depan itu. Kiranya telapak kaki itu tertusuk tulang dan masuk amat dalam. Agaknya dalam perkelahian melawan ular laut, beruang itu mencengkram tubuh ular dan sedemikian kuatnya dia mencengkeram sampai tulang punggung ular patah dan menusuk ke dalam daging di telapak kaki depan itu, Sin Liong segera mencabut tulang itu. Darah mengucur deras dan dia segera membalut dengan saputangannya. Beruang itu kini tidak marah lagi.

Agaknya dia cerdik dan dapat mengerti bahwa orang yang datang ini bukan musuh, bahkan menolongnya. Kaki depan yang terluka itu kini tidak nyeri lagi dan tentu saja , karena yang membuat dia tersiksa rasa nyeri tadi adalah karena tulang yang menancap itu.

"Coba kuperiksa, apa lagi yang perlu kuobati," Sin Liong berkata dan dia memeriksa luka-luka di tubuh beruang itu. Ada sebuah luka di tengkuk yang membengkak. Tahulah Sin Liong bahwa luka ini cukup berbahaya, kalau tidak lekas diberi obat yang cocok akan dapat membahayakan nyawa beruang itu.

"Hemmm, aku harus mencarikan daun obat untuk luka-lukamu,"katanya, lupa bahwa beruang itu tentu saja tidak mengerti apa yang dia katakan.

"Hai, Suheng, ada apakah?" Tiba-tiba terdengar teriakan dari atas. Sin Liong menoleh dan melihat Sumoinya turun berlari-lari cepat sekali.Setelah dekat, beruang itu menggerang dan memandang Swat Hong dengan marah.

"Huh, binatang buruk!" Swat Hong memaki.

"Dia terluka cukup berat, akan tetapi dia menang berkelahi melawan ular laut itu. Lihat, betapa besarnya ular itu, Sumoi. Beruang itu kuat sekali. Aku harus mengobatinya sampai sembuh."

Swat Hong mengerutkan alisnya, "Perlu apa menolong binatang buas seperti itu, Suheng? Membuang-buang waktu saja."

"Dia tidak buas lagi, sumoi. lihat betapa jinaknya. Dia pun mahluk hidup yang perlu kita tolong. Aku merasa kasihan kepadanya,sumoi."

"Wah, kau lebih mementingkan dia..."

"Hei..., ada apa engkau...?"

Tiba-tiba Sin Liong berteriak melihat beruang itu menggereng-gereng dan menarik-narik tangannya, seolah-olah hendak mengajak Sin Liong pergi dari situ! Beruang itu makin keras menggereng dan makin kuat menariknya. Diam-diam Sin Liong kagum bukan main. Tenaga beruang ini luar biasa besarnya, dan kiranya dia hanya akan dapat menandingi tenaga raksasa ini kalau dia menggerakan sinkang sekuatnya! Akan tetapi tiba-tiba dia mendapat firasat tidak baik melihat sikap beruang itu, maka disambarnya tangan sumoinya dan dia berteriak.

"Awas, sumoi. Mari pergi, dia menghendaki demikian, entah mengapa?" 

Sin Liong memegang erat-erat lengan sumoinya dan membiarkan dirinya diseret oleh biruang itu. Binatang itu mengajaknya setengah paksa berlompatan dan berlarian ke gunung es yang lain yang berdekatan. Baru saja mereka melompat ke atas gunung es lain itu, tiba-tiba terdengar suara keras dan gunung es dimana mereka berada tadi telah pecah berantakan menjadi keping-keping kecil. Kiranya gunung es itu ditabrak oleh gunung es yang lain dan hal ini agaknya telah diketahui oleh si Beruang tanpa melihat datangnya gunung es yang tak tampak dari situ. Ternyata binatang itu hanya diperingatkan oleh nalurinya yang tidak ada pada manusia!

Sin Liong berdiri dengan muka pucat, kemudian dia merangkul beruang itu. "Terima kasih, kakak beruang. Kiranya engkau malah menyelamatkan kami berdua."

Akan tetapi Swat Hong merasa tidak senang. "Suheng, mari kita segera pergi dari sini. Tempat ini amat berbahaya. Lihat, gunung es tadi hancur dan itu kelihatan dari sini perahu kita. Untung tidak hilang. Marilah, suheng."

"Nanti dulu, sumoi. Aku harus mencarikan daun obat untuk mengobati luka-luka di tubuh beruang ini."

"Ah, perlu apa? Kita bisa celaka di sini..."

"Sumoi, dia telah menyelamatkan nyawa kita!"

"Hemm, begitukah? Engkau pun tadi telah menyelamatkan nyawanya ketika kau mengusir burung-burung nazar itu, bukan? Aku melihat dari jauh. Berarti sudah terbalas semua budi, bukan Marilah, Suheng."

"Tidak, sumoi. Kita tinggal di sini dulu sampai aku selesai mengobatinya."

Swat Hong menjadi marah. "Agaknya kau lebih sayang biruang betina ini dari pada aku!"

"Sumoi...!"

Akan tetapi Swat Hong sudah berlari pergi, berloncatan di atas pecahan es dan menuju ke perahu mereka, meloncat ke dalam perahu dan mendayung perahu itu pergi dari situ! Sin Liong menjadi bingung dan hampir membuka mulut menegur, akan tetapi karena maklum bahwa hal itu percuma saja, dia membatalkan niatnya.

"Ngukkk... nguuuuukkk...."

Beruang itu mendengus-dengus dan menciumi kepalanya.

"Ahhh, Enci (Kakak Perempuan) beruang, betapa sukarnya menyelami watak wanita. Aku telah membuat hatinya kecewa dan marah, akan tetapi bagaimana hatiku dapat tega meninggalkan engkau yang terancam bahaya maut oleh lukamu?"

Sin Liong lalu mengajak beruang itu mencari daun. Karena perahu sudah dibawa pergi Swat Hong, Maka terpaksa dia mencari pulau yang masih ada tetumbuhannya dengan jalan berloncatan dari batu es lainnya, dan kalau jaraknya terlalu jauh, beruang itu menggendongnya dan membawanya berenang ke batu es lainya atau kadang-kadang Sin Liong menggunakan sebongkah es yang mengambang sebagai perahu, didayung dengan tangannya yang kuat. Akhirnya, setelah melalui perjalanan yang amat sukar, dapat juga dia menemukan pulau yang masih ada tetumbuhannya dan di pulau kecil itu, mulailah dia mengobati luka-luka beruang itu sampai sembuh.

Pada suatu hari dia melihat sebuah perahu kosong terbalik mengambang tidak jauh dari pulau. Dia merasa girang sekali. Cepat menyuruh beruang mengambilnya dan hatinya terharu ketika mengenal perahu itu sebagai sebuah di antara perahu pulau es. Tentu penumpangnya telah lenyap ditelan badai, pikirnya. Dia lalu membuat dayung dari cabang pohon dan setelah biruang hitam itu sembuh benar, dia lalu melompat ke perahu dan mendayungnya meninggalkan pulau. Akan tetapi tiba-tiba beruang itu terjun ke air dan berenang mengejar perahunya.

"Heii, kakak beruang, kembalilah. Engkau sudah sembuh, dan aku harus pergi mencari sumoi!"

"Nguuuk...nguukk...!"

Beruang hitam itu mengeluarkan suara mengeluh dan mukanya seperti orang menangis! Sin Liong tersenyum.

"Hmm, kau hendak ikut, ya? Nah, loncatlah ke atas!" Seolah-olah mengerti arti kata-kata Sin Liong, biruang itu lalu meloncat ke dalam perahu kini mukanya kelihatan berseri, matanya bersinar-sinar dan lidahnya terjulur keluar seperti sikap seekor anjing yang kegirangan.

"Kau boleh ikut sampai aku dapat menemukan kembali sumoi!" kata Sin Liong.

"Kalau sumoi tidak menghendaki kau ikut, kau harus kutinggalkan karena kau telah sembuh."

Demikianlah, Sin Liong kini melanjutkan perjalanan mencari Pulau Neraka. Dari puncak sebuah gunung es, dia dapat melihat dari jauh dan kini dia tahu di mana letaknya Pulau Neraka. Beruang yang kini menggantikan tempat Swat Hong, menjadi temannya berlayar itu kelihatan girang sekali ketika perahu meluncur dan binatang ini telah jinak benar-benar. Setelah kini dia mengenal kembali keadaan dan tahu di mana letaknya Pulau Neraka, perjalanan dapat dilakukan dengan cepat. Setelah dekat dengan Pulau Neraka, dia menyaksikan suatu yang membuatnya terheran dan merasa tegang. Sebuah perahu besar kelihatan mendarat di Pulau Neraka. Jelas bukan perahu Pulau Neraka yang kecil-kecil. Perahu itu besar sekali, perahu layar yang hanya dipergunakan untuk pelayaran jauh. Dan perahu itu pun dalam keadaan payah, jelas kelihatan bekas diamuk badai. Tiang layarnya patah, layarnya cabik-cabik dan perahu itu tidak ada orangnya sama sekali, berdiri miring di pantai Pulau Neraka. Apakah yang telah terjadi di Pulau Neraka?

Ternyata bahwa seperti juga pulau lain. Pulau Neraka tidak luput dari amukan badai. Hanya karena letaknya agak jauh dari pusat amukan badai, maka penderitaannya tidak sehebat pulau lain, terutama Pulau Es. Air juga naik tinggi dan menenggelamkan setengah bagian pulau ini, banyak pula penghuninya yang
tidak keburu lari ke tempat tinggi, diseret dan ditelan badai. Perahu-perahu lenyap, pohon-pohon yang berada di tepi pantai bobol semua. Dan setelah badai mereda, sebuah perahu besar terdampar di tepi pantai. Perahu itu adalah perahu bajak laut! Setelah air menyurut, para bajak laut yang terdiri-dari dua puluh lima orang itu segera mendarat. Mereka itu kelelahan dan kelaparan, bahkan ada lima orang di antara mereka tewas ketika badai mengamuk sehingga jumlah mereka hanya tinggal dua puluh lima orang itulah. Mereka mendarat di kepalai oleh raja bajak yang memimpin mereka, raja yang amat terkenal di sepanjang pantai muara-muara sungai Huangho dan Yangce.

Kepala bajak ini adalah seorang laki-laki tinggi besar yang buta sebelah matanya. Mata kiri yang buta karena tusukan pedang lawan dalam pertandingan, kini ditutupi oleh sebuah kain hitam sehingga ia kelihatan lebih menyeramkan lagi. Tubuhnya tinggi besar dan di antara para nelayan dan pedagang yang suka berperahu, dia dikenal sebagai Tok-gan-hai-liong (Naga Laut Mata Satu) dan namanya adalah Koan Sek.

Mereka sama sekali tidak tahu bahwa perahu mereka yang diamuk oleh badai dahsyat itu telah mendarat di Pulau Neraka! Andaikata mereka tahu juga, mereka tentu tidak merasa takut karena pada waktu itu, nama Pulau Neraka hanya dikenal oleh Orang-orang Pulau Es. Untuk dunia ramai, yang dikenal hanyalah Pulau Es, yang dikenal sebagai tempat yang hanya terdapat dalam sebuah dongeng. Betapapun juga, Pulau Es merupakan nama yang ditakuti oleh semua orang termasuk para bajak. Akat tetapi karena pulau dimana perahu mereka mendarat bukanlah Pulau Es, melainkan pulau yang hitam penuh tetumbuhan, mereka menjadi berani dan setelah badai mereda dan air menyurut, mereka lalu menyerbu ke tengah pulau.

Untung bagi mereka bahwa badai yang amat dahsyat itu membuat air laut naik dan mengamuk di daratan pulau sehingga binatang-binatang berbisa pun menjadi panik dan ketakutan, lari bersembuyi dan belum berani keluar. Andaikata mereka itu berani menyerbu pulau dalam keadaan biasa tentu mereka akan menjadi korban binatang-binatang itu dan sukarlah dibayangkan apa akan jadinya. Mungkin sekali tidak ada diantara mereka yang akan dapat lolos betapapun liar, ganas dan lihai mereka itu. Dapat dibayangkan betapa heran dan girangnya hati para bajak itu ketika mendapat kenyataan bahwa di tengah pulau itu terdapat pondok-pondok yang dibuat oleh manusia! Akan tetapi keheranan mereka segera berubah menjadi kekagetan hebat ketika para penghuni pulau itu menyambut mereka dengan serangan dahsyat tanpa peringatan apa-apa. Karena mereka adalah bajak-bajak yang sudah biasa berkelahi dan mengadu nyawa, maka serbuan para penghuni Pulau Neraka itu mereka sambut dengan gembira.

Mereka mengira bahwa penghuni pulau itu adalah orang-orang biasa saja. Maka besar sekali kekagetan mereka ketika mendapat kenyataan betapa kurang lebih dua puluh orang, yaitu sisa penghuni Pulau Neraka yang tidak dibasmi oleh badai, yang berani menyambut mereka dengan serangan itu rata-rata memiliki kepandaian hebat! Terjadilah perang tanding yang seru dan mati-matian. Bajak laut pimpinan Tok-gan-hai-liong itu pun bukan orang-orang biasa melainkan penjahatpenjahat pilihan yang selain kuat dan ganas, juga rata-rata pandai ilmu silat. Apalagi Tok-gan-hai-liong sendiri bersama seorang pembantu yang sebetulnya adalah sutenya (adik seperguruan) sendiri yang bernama Coa Liok Gu, seorang ahli pedang yang lihai sekali. Sedangkan Tok-gan-hai-liong Koan Sek sendiri adalah seorang ahli bermain senjata ruyung yang ujungnya merupakan sebuah bola baja yang berat dan keras.

Para penghuni Pulau Neraka masih terguncang oleh amukan badai, bahkan ketua mereka, Ouw Kong Ek, sedang menderita sakit hebat. Semenjak penyerbuan pasukan Pulau Es yang dipimpin oleh Han Ti Ong, Ouw Kong Ek jatuh sakit. Mungkin karena dia merasa terlalu marah, dan mungkin juga karena usianya yang sudah tua. Pernyerbuan dari Pulau Es itu merupakan hal yang amat menyakitkan hatinya, dan juga hati para penghuni Pulau Neraka, mendatangkan rasa dendam yang lebih mendalam. Apalagi melihat betapa catatan pengobatan dari Kwa Sin Liong telah dihancurkan oleh Han Ti Ong, hati Ouw Kong Ek merasa sakit sekali. Untung masih ada beberapa macam obat yang hafal olehnya, akan tetapi sebagian besar telah dibasmi oleh Raja Pulau Es yang marah itu.

Pada saat bajak laut menyerbu, Ouw Kong Ek tidak dapat bangun dari tempat tidurnya. Dia dijaga dan dirawat oleh cucunya, Ouw Soan Cu. Maka dapat dibayangkan betapa kaget hati kakek ini ketika ada anak buahnya yang datang melapor bahwa pulau yang baru saja diamuk badai itu kini disebu oleh sepasukan bajak laut yang ganas dan rata-rata memiliki kepandaian tinggi!

"Keparat...!"

Kakek itu meloncat bangun akan tetapi terguling kembali dan Soan Cu segera memegang lengan kakeknya, membantunya untuk rebah kembali.

"Tenanglah, Kong-kong! Biarlah aku yang keluar untuk membantu teman-teman membasmi bajak laut yang tidak tahu diri itu."

Ouw Kong Ek terpaksa hanya mengangguk karena dia sendiri masih tidak kuat untuk bangun, apalagi bertempur.

"Hati-hatilah, Soan Cu..."

Dia percaya akan kepandaian cucunya yang tentu akan dapat mengusir bajak-bajak laut yang biasanya hanya terdiri orang-orang kasar itu. Dengan pedang di tangan Soan Cu lalu berlari keluar. Melihat anak buahnya sudah bertanding mati-matian melawan bajak-bajak yang ganas, apalagi melihat seorang wanita Pulau Neraka digeluti oleh dua orang laki-laki kasar sampai wanita itu menjerit-jerit namun dua orang laki-laki itu malah tertawa-tawa dan merobek-robek pakaian wanita itu, Soan Cu menjadi marah sekali. Dia mengeluarkan teriakan marah, tubuhnya yang ramping mencelat ke depan, pedangnya menyambar dan dua orang bajak yang sedang memperkosa wanita itu roboh dengan leher terkuak lebar dan hamper putus!

Wanita itu cepat membereskan pakaiannya, menyambar goloknya dan seperti seekor harimau kelaparan dia membacoki tubuh dua orang bajak tadi. Melihat sepak terjang Soan Cu yang kembali sudah merobohkan dua orang bajak, Tok-gan-hailiong Koan Sek dan Coa Liok Gu, dibantu oleh beberapa orang bajak lain cepat mengepung dan mengeroyoknya. Namun Soan Cu mengamuk hebat dan pedangnya berubah segulung sinar terang yang menyambar Dahsyat, membuat dua orang pimpinan bajak itu terkejut dan harus memainkan senjata dengan hati-hati sekali agar jangan sampai mereka menjadi korban kedahsyatan sinar pedang yang dimainkan oleh dara itu.

"Lepas tulang ikan!!"

Tiba-tiba kepala bajak itu memberi aba-aba kepada sutenya dan mereka berdua telah meloncat mundur, membiarkan anak buah mereka yang empat orang banyaknya melanjutkan pengeroyokan, sedangkan mereka berdua lalu mengayun tangan berkali-kali ke arah Soan Cu. Sinar lembut bertubi-tubi menyambar ke arah Soan Cu dari depan dan belakang. Dara ini memandang rendah senjata rahasia mereka. Dia adalah Seorang dara Pulau Neraka sudah terlalu banyak racun dikenalnya bahkan dia telah menggunakan obat anti racun maka dia tidak terlalu khawatir ketika sebuah di antara senjata rahasia lawan yang lembut itu mengenai pahanya. Akan tetapi, betapa kagetnya ketika dia merasa kakinya itu setengah lumpuh dan begitu dia menggerakan pedang, tubuhnya terhuyung, kepalanya pening.

"Aihhh...!"

Dia berseru nyaring, lebih merasa heran daripada khawatir. Dara ini tidak tahu bahwa lawannya menggunakan am-gi (senjata gelap) berupa tulang berbentuk duri dari sirip semacam ikan laut yang berbisa. Bisa dari ikan laut ini tentu saja tidak dapat disamakan dengan bisa dari binatang darat, maka bisa yang asing ini tidak dapat ditolak oleh obat anti racun yang dipakainya.

"Sute, tangkap nona manis ini...!"

Teriak Koan Sek dengan girang. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara gerengan yang dahsyat dan yang membuat mereka kaget bukan main. Dua orang bajak yang mendengar suara itu dekat sekali dibelakang mereka menengok dan... mereka itu terjengkang dan merangkak untuk melarikan diri dengan ketakutan.

Kiranya yang menggerang itu adalah seekor binatang raksasa hitam yang menakutkan. Seekor beruang yang lebar moncongnya cukup untuk mencaplok kepala mereka sekaligus! Sin Liong yang datang bersama biruang itu cepat meloncat mendekati Soan Cu merampas pedang dari tangan dara itu dan memondongnya dengan tangan kiri, kemudian sekali meloncat dia telah berada di punggung biruang, lengan kiri memeluk dan menjaga tubuh Soan Cu yang dipangkunya karena dara itu telah menjadi pingsan sedangkan tangan kanan menggerakan pedang dara itu sambil beseru, "Kakak biruang, lawan mereka
yang berani mendekat!"

Biruang itu menggereng-gereng dan ketika melihat dari kiri ada sinar menyambar, yaitu sinar pedang yang digerakan oleh Coa Liok Gu sute dari kepala bajak, tiba-tiba kaki depan kiri yang kini dipergunakan seperti tangan itu bergerak menangkis, bukan menangkis pedang melainkan mencengkram kepala Coa Liok Gu. Tentu saja orang ini kaget dan sekali merendahkan tubuh, membalikan pedang dan siap untuk menyerang lagi. Begitu lengan biruang itu menyambar lawan, dia meloncat ke atas dan menusukan pedangnya mengarah
bagian antara kedua mata biruang itu.
"Cringgg...!!"

Pedangnya terpental dan dia harus cepat melempar tubuh ke belakang kalau tidak ingin dadanya robek oleh cakar biruang setelah pedangnya ditangkis oleh Sin Liong tadi.

"Siuuuut...!!"

Senjata ruyung berujung baja di tangan Koan Sek sudah bergerak menyambar dengan ganas, menghantam punggung biruang hitam dengan kecepatan kilat dan dengan tenaga dahsyat.

"Cringgg...! Tranggg...!!"

Dua kali senjata berat itu ditangkis oleh Sin Liong dan dua kali pula kepala bajak itu berseru kaget karena telapak tangannya hampir terkupas kulitnya dan terasa panas dan perih. Pada saat dia terbelalak dan terheran, biruang itu sudah membalikan tubuh dan sekali kaki depannya yang kanan menampar, kepala bajak itu mencoba menangkis, namun senjatanya terlepas dari pegangannya dan biruang itu sudah menubruknya dan mencengkram ke arah lehernya.

"Kakak biruang, jangan ...!"

Sin Liong membentak. Biruang itu terkejut dan ragu-ragu sehingga kesempatan itu dapat dipergunakan oleh Koan Sek untuk meloncat jauh kebelakang. Dia dan pembantu utamanya, Coa Liok Gu berdiri dengan muka pucat memandang pemuda yang menunggang biruang itu membawa pergi tubuh dara jelita yang pingsan. Biarpun pedang masih berada di tangannya, Coa Liok Gu tidak lagi berani menyerang karena dia maklum bahwa selain biruang raksasa itu amat kuat, juga pemuda itu memiliki kepandaian yang luar biasa sekali. Sin Liong merasa bingung dan gelisah menyaksikan pertempuran hebat itu.

"Hentikan pertempuran...!"

Dia berseru berkali-kali namun percuma saja, para bajak laut dan penghuni Pulau Neraka adalah orang-orang kasar yang pada saat itu sedang marah, maka sukar untuk dibujuk. Tiba-tiba terdengar suara melengking tinggi dan panjang dan suara itu segera disusul suara berdengungdengung dan berdesis-desis. Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Sin Liong ketika dia melihat datangnya binatang-binatang kecil yang berbisa. Ular, kelabang, kalajengking dan sebangsanya berdatangan dari semua penjuru, merayap cepat seolah-olah digerakan oleh suara melengking iru, dan yang lebih mengerikan lagi, lebah-lebah putih datang pula beterbangan! Saking kagetnya Sin Liong melompat turun dari punggung biruang dan kini biruang itu pun terkejut dan ketakutan, seolah-olah binatang raksasa ini sudah mengerti bahwa bahaya maut datang mengancamnya. [bersambung]